Ads Top

Tiga Makna Positif Sengsara

Jagalah dirimu, janganlah berpaling kepada kejahatan, karena itulah sebabnya engkau dicobai oleh sengsara. (Ayub 36: 21)

Allah kita adalah Allah yang hebat dan ajaib. Rancangannya sering tidak dapat kita pikirkan. Ia seringkali mengizinkan kita untuk mengalami sengsara sehingga membuat kita bertanya-tanya, “Mengapa aku mengalami hal ini? Mengapa aku mengalami kegagalan?”

Namun, di balik itu semua Ia mau memberitahu rahasia kehidupan yang benar kepada kita. Ada banyak hal dalam hidup ini yang menyebabkan kita bertanya. Memang hidup ini merupakan misteri. Manusia berusaha untuk menebaknya, tapi tidak bisa dapat jawaban.

Jawaban itu hanya didapatkan di dalam Tuhan. Dia mempunyai rencana yang indah dan mulia bagi kita dalam setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.


Di dalam ayat di atas kita menemukan tiga rahasia yang indah dan mahal harganya yang ada di balik sengsara yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita.

I.    Sengsara Menimbulkan Pertanyaan


Sering kita bertanya kepada Tuhan, “Mengapa hidupku selalu dilanda dengan sengsara? Mengapa hari-hari sepanjang hidupku selalu diwarnai dengan sengsara? Mengapa sengsara semata yang aku lihat?”
Pertanyaan “mengapa” sudah ada pada diri manusia sejak manusia masih ada di Taman Eden. Kalau Adam dan Hawa masih hidup saat ini, mungkin mereka akan bertanya, “Mengapa anakku Kain membunuh adiknya Habel?”

Dalam hidup ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita mengerti. Namun kita akan mengerti kelak. Ada banyak hal yang tak dapat ditangkap oleh otak kita, tak dapat ditatap oleh mata kita, tak dapat diraba oleh tangan kita, tak dapat diterima oleh hati kita, tak dapat dirasakan oleh perasaan kita. Meskipun demikian, ada satu hal yang dapat kita yakini, yaitu bahwa Tuhan kita hidup dan Dia menyertai kita. Ini yang perlu kita hayati.
Jika saat ini kita sakit dan bertanya-tanya, “O .... mengapa?” Kita sedang berjalan di gerbong kereta api kemarin ditodong, dipukuli sampai sembunyi di kamar masinis kita bertanya, “O .... mengapa?” Jika kita membawa enak-enak Alkitab, tiba-tiba ditabrak oleh seorang yang sedang patah hati dan dimarah-marahi, kita bertanya, “O .... mengapa?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kita simpan dulu dengan satu tekad bahwa nanti bila ketemu kita dengan Tuhan, ketemu muka dengan muka, kita akan membacakan pertanyaan itu satu per satu. Sengsara menciptakan pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita, termasuk murid-murid Yesus meskipun mereka sudah jalan bersama-sama sekian lama, tidur bersama-sama, melihat mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Yesus, tapi sengsara tetap menciptakan pertanyaan-pertanyaan dalam diri murid-murid Yesus itu.

Kalau boleh dijawab, sengsara itu sesungguhnya dicipktana oleh dosa. Dosa memisahkan kita dari Allah untuk selama-lamanya. Billy Graham dalam satu tulisannya berkata, “Neraka itu nyata, bukan hanya teori atau dongeng saja. namun neraka itu tidak disediakan untuk manusia, melainkan untuk setan dan para pengikutnya”.

II.    Sengsara Menuntun Kita Kepada Banyak Hal

1.    Sengsara menuntun kita untuk bertemu dengan Yesus.

Sering setelah banyak mengalami sengsara, orang mau kembali kepada Tuhan. Betul, dengan mengalami banyak sengsara, orang mau bertobat dan menerima Yesus. Jika kamar-kamar penjara bisa bersaksi, ia akan berkata berapa banyak orang yang telah bertobat dari dosanya karena mereka telah mengalami apa yang dinamakan sengsara.

2.    Sengsara juga menuntun kita untuk kembali kepada Tuhan.

Jika saat ini engkau mengalami sengsara, izinkanlah itu terjadi karena sengsara adalah penuntun kita yang baik untuk bertemu dengan Yesus. Jadi pesuruh Allah, bukans aja malaikat namun juga sengsara.

a.    Dalam kisah Rut, keluarga Elimelek dan Naomi mengalami kelaparan di Betlehem. Daya tarik Moab begitu luar biasa bagi mereka, sehingga mereka meninggalkan Betlehem. Sebenarnya Betlehen merupakan gudanganya makanan, karena Betlehem berarti rumah roti. Tapi Naomi, Elimenek dan kedua anaknya meninggalkannya dan pergi ke Moab. Di sana kedua anaknya menikah dengan wanita Moab. Tapi tidak lama kemudian, Elimenek mati disusul kedua anaknya. Naomi dan kedua menantunya menjadi janda. Dalam suasana seperti itu, Naomi baru ingat Betlehem. Ketika mereka tertimpa sengsara, mereka baru ingat Betlehem, rumah roti. Naomi kembali ke Betlehem disertai Rut menantunya. Mereka kembali bukan karena dijemput iman, pendeta maupun evangelis, melainkan oleh pesuruh Tuhan yang bernama “sengsara”. Sengsara menuntut manusia untuk kembali kepada Tuhan.

b.    Dalam PB kita ingat kisah tentang anak yang hilang. Meskipun ayahnya belum meninggal, ia sudah meminta warisan untuk bekal di perantauan. Bapa menasihati supaya jangan pergi tapi tidak mempan. Ketika tiba di perantauan bertemu banyak teman, hidup berfoya-foya, akhirnya hartanya habis. Akhirnya terjadilah kelaparan. Akhirnya ia terpaksa menjadi penjaga babi. Pada saat itulah ia lapar dan mengambil makanan babi itu dan saat itu pula teringat rumah Bapa. Mengapa aku mati kelaparan di tempat ini? Baiklah aku pulang ke rumah Bapa. Aku akan berkata kepada Bapa. Jangan anggap aku sebagai anakmu, tapi samakan aku dengan salah seorang dari orang-orang upahan sebab aku sudah berdosa kepadamu. Keakuannya yang dulu begitu hebat, sekarang luntur. Sengsara menjemputnya kembali kepada Bapa.

Saudara pilih mana? Buru-buru balik sebelum mengalami sengsara atau dijemput oleh sengsara. Haruskah Allah mengirim jemputan yang bernama “sengsara” supaya kita kembali kepadanya? Jangan keraskan hatimu. Berkatalah kepada Tuhan, “Bapa aku tidak perlu dijemput. Aku sudah berjalan sendiri”. Naomi dan Rut perlu jemputan. Anak terhilang perlu jemputan. Tapi kita tak perlu jemputan. Sengsara menuntun manusia untuk bertemu dengan Tuhan. Jadi kalau ada sengsara dalam hidupmu sekarang, jangan bertanya “mengapa”, tapi berkatalah “Terima kasih Tuhan dengan adanya sengsara dalam hidupmu ini aku bisa berbalik sendiri dan bertemu dengan Engkau”. Alkitab berkta, “Carilah Tuhan selagi ia dapat ditemui. Berdoalah selagi Dia dekat”. (Yes. 55: 6)

III.    Sengsara Memberi Banyak Keberuntungan


Sengsara dapat membuka hati kita untuk melihat sesuatu yang lebih indah, yaitu hidup kekal. Hidup sekarang memang betul indah. Kalau kita menjelajahi alam semesta ini, kita akan melihat keindahan-keindahan yang diciptakan oleh Allah bagi kita. Namun hidup ini merupakan perjuangan yang luar biasa getir dan pahitnya. Sehingga suatu saat akan memaksa kita untuk mengangkat tangan dan berkata, “Siapa gerangan yang bisa mengangkatku keluar dari hidupku ini?” Dalam dunia ini banyak onak dan duri agar kita mengaku bahwa kita tidak dapat berjalan di atasnya tanpa Tuhan. Dalam dunia ini ada banyak rintangan bagaikan palang besi ataupun tembok yang tebal agar kita menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Sengsara, membuka mata kita untuk melihat sesuatu jauh di depan. Sebab kalau tidak, manusia akan merasa betah tinggal di dalam dunia ini. Hidup kita dalam dunia ini penuh linangan air mata. Tapi ada satu tempat di mana air mata kita akan disapu dan dikeringkan, yaitu di “sorga”.

Sengsara dapat membentuk watak dan karakter kita. Ada seorang pebisnis di Jakarta yang mengawasi perusahaan kosmetik. Ia terus-menerus mengalami sukses dalam hidupnya, sehingga ia merasa dirinya orang yang nomor satu di dunia, tetapi dia segala sesuatunya tidak akan berjalan. Satu kali Tuhan memukul dia sehingga ia kembali jadi nol. Dari nol ia berusaha lagi dan mulai naik lagi. Ia kembali berbuat sombong sehingga ia dipukuli Tuhan lagi. Hal itu berlangsung berkali-kali sampai akhirnya ia sadar dan bersaksi bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kesadarannya timbul setelah ia mengalami sengsara.
Sengsara dapat membentuk watak dan karakter kita. Jadi kalau watak kita belum benar, Tuhan akan terus mengirim tamu yang bernama “sengsara” untuk membentuk watak kita. Katakan kepada Tuhan, “Tuhan, jangan kirim tamu yang bernama sengsara itu lagi, lebih baik Tuhan kirim tamu yang bernama Tuhan Yesus saja”.

Tuhan sering mengizinkan kita mengalami sengsara dengan satu tujuan saja, yaitu untuk membentuk watak dan karakter kita menjadi serupa dengan Yesus. Sengsara itu seumpana palu yang memukul kita sampai lumat supaya kita dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah.


Kesimpulan:
Jadi, tiga rahasia yang indah dan mahal harganya yang ada di balik sengsara yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita adalah:
  1. Sengsara Menimbulkan Pertanyaan
  2. Sengsara Menuntun Kita Kepada Banyak Hal
  3. Sengsara Memberi Banyak Keberuntungan

(Khotbah Pdt. JR Simanjuntak)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.