Ads Top


"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,” dan la tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah" (Markus 11:15 16).

Alkitab mengungkapkan Yesus berdoa (Mat.14:23), Yesus menangis (Yoh.11:35), Yesus menyanyi (Mat.26:30) dan Yesus marah (Mrk.11:15-16).

Namun dari semua sifat Yesus yang tertera di atas, Ia menyuruh kita untuk meniru suatu sifat lain yang sangat menonjol dan dominan dalam hidupNya yaitu "lemah lembut dan rendah hati" (Mat.11:29). Kita lalu bertanya, mana mungkin orang selembut Tuhan Yesus dapat marah?

Musa lemah lembut dan lebih lembut dari siapapun (Bi1.12:3), namun Musa dapat marah saat bangsa Israel menuntut air. Ia dengan geram memukul batu (Bil.20:11). Karena tindakan Musa itu, Allah tidak mengijinkan dia masuk tanah Kanaan, tanah perjanjian (Bil.11:12).

Amarah Musa tidak diperbolehkan, namun Tuhan Yesus yang lebih lembut dari Musa dapat marah, dan marah-Nya melebihi amarah Musa. Mengapa?


Simak empat jawaban berikut :

I. YESUS MARAH, JIKA HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH BERLANGSUNG BIASA-BIASA SAJA.

Dalam peristiwa Tuhan Yesus menjungkir balikkan meja-meja dagangan mereka di dalam Bait Allah, ibadah kepada Allah telah berubah fungsi menjadi dunia usaha, mencari untung. Binatang korban seperti kambing, domba, burung merpati telah diperdagangkan dengan harga yang melebihi standar.

Hubungan dengan Allah sudah menjadi nomor dua, tiga dan pada urutan belakang, sedangkan uang telah menjadi utama.

Yesus marah, jika hubungan kita dengan Allah berlangsung biasa-biasa saja.

II. YESUS MARAH, JIKA HAL-HAL DUNIAWI LEBIH KITA PENTINGKAN DARI HAL-HAL ROHANI.

Di Bait Allah pada zaman Tuhan Yesus pars imam mengutamakai hal-hal duniawi melebihi hal-hal rohani. Uang lebih penting dari doa, pujian dan penyembahan serta ibadah kepada Allah.

Kita perlu uang untuk persembahan, untuk membeli keperluan beribadah, untuk sarana penopang ibadah, tetapi uang tidak boleh menggeser kepentingan rohani (Mat.6:33).

Persahabatan dengan dunia merupakan kebencian bagi Allah (Yak.4:4).

Yesus marah, jika hal-hal duniawi lebih kita pentingkan dari hal-hal rohani.

III.  YESUS MARAH, JIKA KEPENTINGAN PRIBADI LEBIH DIUTAMAKAN DARIPADA KEPENTINGAN ALLAH.

Berkali-kali Tuhan Yesus menekankan bahwa kepentingan Allah Bapa adalah segalanya. Melalui pengajaranNya (Yoh.7:17), melalui doaNya (Mat.26:39) dan melalui kehidupanNya, Ia buktikan hal itu.

Ia marah kepada Petrus dan menyebutnya iblis, karena kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada Allah (Mat.16:23).

Yesus marah, jika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan Allah.

IV. YESUS MARAH, JIKA INJIL HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI.

Dunia adalah ladang pelayanan kita untuk memberitakan Injil. Bukan hanya satu kota,satu pulau, satu benua, tetapi seluruh dunia. Mulai dari Yerusalem, Samaria, Yudea dan sampai ke ujung bumi.

Misi Allah Bapa adalah dunia (Yoh.3 :16), misi Tuhan Yesus adalah dunia (Yoh.17:18), misi Roh Kudus adalah seluruh dunia (Kis.1:8).

Perintah Agung Tuhan Yesus adalah memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat.28:18-20) dan bukan untuk kalangan sendiri, karenaYesus Tuhan segala bangsa.

Tuhan Yesus marah, jika Injil hanya untuk kalangan sendiri. 

KESIMPULAN:

Dengan demikian...  Yesus marah jika...
  • Hubungan kita dengan Allah berlangsung biasa-biasa saja, 
  • Hal-hal duniawi lebih kita pentingkan dari hal-hal rohani, 
  • Kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan Allah, dan 
  • Injil hanya untuk kalangan sendiri.

SUMBER:
Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA di Kebaktian Umum Pagi & Malam GSJA KEMULIAAN, 14 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.