Created (c) by Princexells Seyka (Princelling Saki)

Minggu, 10 Juli 2011

MANUSIA DICIPTAKAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH

Do you want to share?

Do you like this story?

MANUSIA DICIPTAKAN SEGAMBAR DENGAN ALLAH
(Kej. 1: 26)

Allah dalam hikmatnya menciptakan manusia segambar dengan diriNya. Allah menciptakan manusia pada hari terakhir dari segala seuatu yang diciptakanNya. Keputusan Allah untuk menciptakan manusia segambar dengan diriNya adalah keputusan yang penuh hikmat dan pengertian yang dalam.

Mengapa? Karena manusia akan menjadi makhluk yang tidak sama dengan ciptaan lain yang akan dibekali “kemampuan pikiran” dan kemampuan yang tidak tertutup kemungkinan dapat memberontak terhadap penciptaannya.


Proyek Allah yang satu ini harus dipertimbangkan dengan matang:
1. Hubungan manusia dengan surga dan Allah berada pada tangan manusia yang akan diciptakan.
2. Generasi dan nasib manusia selanjutnya berada pada tangan manusia yang akan diciptakan.

Belum sempurna dan baik apa yang telah diciptakannya, maka perundingan dan konsultasi dilakukan di antara Allah Trinitas. Kesimpulan diambil, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, maka diciptakanlah manusia dari debu tanah” (Kej. 2: 7). Walaupun manusia sudah diciptakan tetap belum sempurna belum baik karena manusia masih seorang diri (Kej. 2: 8). Maka diciptakanNyalah manusia itu menurut gambar Allah laki-laki dan perempuan (Kej. 1: 27).

Sejak manusia diciptakan, maka selesailah proses penciptaan alam semesta. Allah Trinitas “merasa bahagia” menciptakan manusia menurut gambar dan rupanya. Manusia bukan makhluk yang berubah bentuk dari makhluk yang lain seperti yang diungkapkan oleh Darwin. Manusia bukan berasal dari satu ciptaan tapi dari Allah Pencipta.

Dalam hal apakah manusia dikatakan segambar dengan Allah?

I. DALAM KEMAMPUAN BERPIKIR

Manusia adalah makhluk yang memiliki akhlak dan kemampuan berpikir. Dapat menimbang yang baik dan yang jahat. Allah memberi kepada manusia kemampuan berpikir yang Ia miliki supaya manusia melalui pikirannya dapat mengambil keputusan yang membahagiakan Allah dan dirinya.

Itulah sebabnya Allah menguji kemampuan berpikir manusia dengan memberi di tengah taman, di mana Ia menempatkan manusia, pohon pengetahuan yang baik dan jahat. “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia. Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati” (Kej. 2: 16-17).

Manusia gagal karena ia tidak memakai kemampuan berpikir untuk kepentingan “Allah”, tapi untuk kepentingan “sendiri”. Ia gagal memproklamirkan ke segambarannya dengan Allah.

Keputusan yang salah diambil oleh Adam dan Hawa nenek moyang manusia berdampak bagi generasi-generasi berikutnya. Dosa dan pelanggaran manusia semakin berkadar tinggi sampai Allah yang “bahagia” menciptakan manusia segambar dengan diriNya “menyesal” menciptakan manusia.

“Maka menyesallah Tuhan bahwa Tuhan telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hatinya”. Berfirmanlah Tuhan, “Aku akan menghapuskan manusia yang Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hawan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka” (Kej. 6: 6-7).

Apakah rencana Allah gagal? Sama sekali tidak. Ayub dalam pergumulannya menyadari bahwa tidak ada rencana Allah yang gagal. “Aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencanaMu yang gagal” (Ayub 42: 2).

Allah menghadirkan Adam yang kedua, Yesus Kristus, yang kejadiannya bukan dari debu tanah, tapi dari Ruhul Kudus (Luk. 1: 35). Adam pertama diciptakan, Adam kedua Pencipta yang menjadi manusia (Flp. 2: 5-11).

Adam yang pertama membawa kematian, Adam yang kedua Yesus Kristus membawa kehidupan (I Kor. 5: 22). Adam pertama tak taat dan memberontak, Adam kedua taat sampai mati di kayu salib. Allah tak menemukan gambarnya dalam Adam yang pertama, namun dalam Yesus-lah Allah menemukan gambar dan jati diriNya.

Yesus Kristus adalah gambar Allah yang tak kelihatan. “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kel. 1: 15).

Pikiran ibarat mesin bermutu. Jika Anda dapat mempergunakannya dengan baik, dia akan menolong Anda. Jika Anda tidak dapat menggunakannya dengan baik, dia akan merongrong Anda. Pikiran dapat merusak dan sangat berbahaya.

You are what you think (Anda adalah apa yang Anda pikirkan), merupakan ungkapan yang benar. Karena itu, pikiran yang jahat dan negatif merusak diri. Sebaliknya, pikiran yang positif menolong diri sendiri dan membahagiakan sesama.

II. KEMAMPUAN MORAL

Karena Allah itu suci, maka manusia itu diciptakan dengan kemampuan moral dan akhlak yang suci dan kudus segambar dengan Allah. Kesegambaran Allah dengan manusia nampak dalam akhlak yang suci dan benar, sikap murah hati, bahagia, suka berdoa, kemampuan memelihara.

Karena dosa, kecenderungan hati manusia berubah dari hal-hal yang suci kepada kenajisan. Sikap murah hati berubah menjadi hati jahat, kikir, pendendam, tak berbelas kasihan, manusia tak lagi berbahagia terhadap Allah. Manusia menjadi saling bermusuhan, membunuh dan jauh dari Allah. Manusia tidak lagi segambar dengan Allah tapi memusuhinya dalam hati dan pikiran.

Tetapi puji Tuhan melalui Yesus Kristus-lah kita diperdamaikan dengan Allah. Melalui karya Yesus Kristus dan Ruhul Kudus, manusia kembali memiliki gambar Allah dalam dirinya dan memiliki kemampuan moral dan akhlak yang suci. Melalui Ruhul Kudus, manusia mengeluarkan buah kehidupan yang adalah watak dan sifat Allah. “Tetapi buah roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Gal. 5: 22-24).

III. KEMAMPUAN MEMIMPIN

Allah adalah pemimpin tertinggi dan segala sesuatu yang ada di surga maupun yang ada di bumi ini. Alam semesta berada di bawah perintahnya. Manusia lalu menjadi raja atas alam semesta ini.

Karena dosa manusia tak lagi jadi pemimpin atas alam semesta dan atas dirinya sendiri. Manusia berubah menjadi hamba iblis, hamba dosa, dan hamba dari keinginan yang jahat. Tapi puji syukur melalui Yesus Kristus-lah kita dimerdekakan. “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan lagi dikenakan kuk. perhambaan” (Gal. 5: 1). Jika telah dimerdekakan, kita bukan lagi hamba, tapi anak-ahli waris Allah.

Di dalam Yesus Kristus-lah kita dapatkan kesegambaran kita dengan Allah, yaitu kemampuan memimpin. Kita lalu lebih dari pemenang oleh karena Yesus Kristus yang mengasihi kita. Sebab di jalan kemenanganlah kita dapat menyebarkan keharuman Allah dalam Yesus Kristus (II Kor. 2: 14).

Jika kita setia sampai akhir di jalan hidup berkemenangan, barulah kita dianggap layak makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah. Kemampuan memimpin ciri khas semua orang percaya, karena kita anak Allah dan ahli warisnya.


Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA dalam Kebaktian Raya GSJA KEMULIAAN - Jakarta pada hari Minggu, 10 Juli 2011

YOU MIGHT ALSO LIKE

2 Comments:

JOSUA KAMBANI mengatakan...

THANKS TO GSJA

SAIDIN TRISTIAN mengatakan...

WOW GSJA I'M SUPPORT YOU

Poskan Komentar

Silahkan Meninggalkan Komentar Anda.
Kami akan menghapus komentar yang bersifat spam, jorok, kasar, pornografi, dll.

Advertisements

Advertisements