Ads Top

MELAKUKAN YANG TERBAIK: KITA HARUS MENGGUNAKAN KESEMPATAN

Gal. 6: 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Waktu dan kesempatan adalah kehidupan, sesuatu yang tidak dapat diganti. Jika kita menyia-nyiakan waktu, maka kita sedang menyia-nyiakan kehidupan. Sedang jika kita mempergunakan waktu dengan baik, maka kita sedang mencintai kehidupan. “Anda mencintai kehidupan, jangan membuang-buang waktu, karena ‘bahan’ kehidupan dibuat dari sana”, demikian kata orang bijak.


Allah yang penuh hikmat dan Maha Kuasa saja memakai waktu dan kesempatan untuk melaksanakan kehendakNya. Ia memerlukan waktu 6 hari untuk menciptakan alam semesta dan segala isinya dan pada hari yang ketujuh, Ia beristirahat. (Kej. 2: 1-4). Sesuai nasihat Rasul Paulus, waktu begitu penting dan pergunakanlah dengan bijaksana (Ef. 5: 15-16).

Begitu berharganya waktu dan kesempatan bagi manusia sehingga kesempatan yang sedikit dan pendek dapat membebaskan manusia dari kebinasaan kekal.

1) Saat Yesus digantung di kayu salib, ada dua orang penjahat disalibkan bersamanya. Yang seorang berkata dan berharap, “Yesus, ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai raja”. Kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di taman Firdaus”, (Luk. 23: 42-43). Kesempatan sedikit telah menyelamatkan dia.

2) Simson contoh lain pentingnya waktu dan kesempatan. Di akhir hidupnya dan terbelenggu dan buta, Simson mohon pertolongan Tuhan untuk membalas orang Filistin dengan memulangkan kembali tenaganya yang hilang dapat merobohkan tiang penyangga, dan robohlah bangunan itu yang dipadati raja-raja orang Filistin dan terbunuh (Hak. 16: 23-31).

3) Kesempatan kecil acapkali merupakan sesuatu yang dahsyat.

4) Setiap kita diberikan Tuhan waktu dan kesempatan yang sama 24 jam sehari dan 168 jam seminggu, tapi tidak semua kita dapat memakai jam-jam tersebut dengan baik. Bukan hanya banyak waktu dan kesempatan yang kita miliki, tapi “kualitas dari waktu dan kesempatan” itu sendiri yang lebih bernilai bagi kita.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan melalui waktu dan kesempatan demi kehidupan kita.

I. ADAKAN WAKTU DAN KESEMPATAN DENGAN TUHAN

Jika kita mengandalkan Tuhan, kita akan diberkati, dicukupi, dilengkapi dengan berbagai kebajikan, ibarat pohon yang tumbuh di tepi air.

Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya kepada Tuhan. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air yang merambahkan akar-akarnya ke tepi batang air yang tidak mengalami datangnya panas terik yang daunnya tetap hijau, tidak khawatir dalam tahun kering dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17: 7-8).

1.Pohon yang tumbuh di tepi aliran air, adalah bertumbuh dengan subur. Kehidupan ruhani juga demikian harus bertambah dalam iman (Ibr. 4: 2), dalam kasih karunia (II Pet. 3: 18), dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala hal ke arah Dia (Ef. 4: 5).

2.Akar yang merambat. Akar merambat bukan saja bicara sari makanan yang diambil dari tanah dan air yang diolah oleh daun dan disalurkan ke setiap bagian dari pohon, tapi bicara perihal daya tahan pohon itu sendiri terhadap angin, cuaca buruk dan binatang yang merongrongnya sehingga tidak roboh. Begitulah gambaran dari orang yang berharap Tuhan, tidak goyah, tahan uji terhadap angin ribut dan gelombang kehidupan (Roma 5: 4). Jika kita tidak tahan uji, kita tidak akan menerima mahkota kehidupan (Yak. 1: 12).

3.Daunnya yang hijau yang tak khawatir dalam tahun kering. Jika kita memandang pohon pada musim kering tetap hijau, maka yang kita lihat adalah keindahan dari pohon tersebut. Gambaran kehidupan rohani yang harus mempraktikkan keindahan Yesus Kristus.

4.Tidak berhenti menghasilkan buah. Pohon yang berbuah mendatangkan sukacita. Pohon yang tidak berbuah akan ditebang. Demikian gambaran rohani kita (Mat. 3: 10). Jika kehidupan kita kehidupan yang berbuah, dunia akan tahu bahwa kita murid Tuhan dan Allah Bapa dipermuliakan (Joh. 15: 8). Allah adalah sumber segala sesuatu, termasuk hikmat, posisi, uang, gaya hidup, maka satu kebodohan menolak bersekutu dengan Dia.

II. ADAKAN WAKTU DAN KESEMPATAN DENGAN KELUARGA

Lembaga yang dibentuk Allah sesudah penciptaan adalah “keluarga” dan berpesan Allah memberkati mereka dan berfirman, “Beranak-cuculah dan bertambah banyak” (Kej. 1: 28).

Allah tidak saja membentuk keluarga tapi memperhatikan dan menyelesaikan permasalahan yang timbul di dalam keluarga. Kepada Musa, Allah menyatakan bahwa seorang suami harus dapat membahagiakan istri yang baru saja dinikahinya (Ul. 24: 5).

Alkitab tidak hanya menganjurkan agar saling membahagiakan, tapi harus juga mengajar anak-anak kita ke jalan Tuhan dan dilakukan berulang-ulang dan membicarakannya apabila duduk di rumah, dalam perjalanan, dalam berbaring dan apabila bangun (Ul. 6: 7).

III. ADAKAN WAKTU DAN KESEMPATAN DENGANS AHABAT DAN SAUDARA

Setiap kita mempunyai sahabat dan saudara. Ada juga sahabat dan saudara di dalam Tuhan. Sahabat dan saudara sejati dapat dilihat saat kita menghadapi masalah, kesulitan atau jatuh sakit dan duka seperti apa yang dilakukan ketiga sahabat Ayub.

Ketika Ayub kehilangan semua, namun ada tiga sahabat sepakat menyatakan belasungkawa dan menghibur dia (Ayub 2: 11-13). Salomo: seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran (Ams. 17: 17). Sang Rasul memberi nasihat, karena itu selagi ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman (Gal. 6: 10).

IV. BERI WAKTU DAN KESEMPATAN BAGI DIRI SENDIRI

Ada tiga kebutuhan pokok dalam diri kita yang memerlukan waktu dan kesempatan yaitu kebutuhan jasmani, jiwani dan rohani. Semua itu menuntut waktu dan kesempatan. Kita juga harus menjaga penampulan kita karena penampilan kita berbicara siapa kita.

Kebutuhan jiwa: kita harus menjaga supaya hati dan pikiran tenang, bahagia tidak khawatir, positif dan mengisinya dengan hal-hal indah.  

Jadi akhirnya Saudara-saudara semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Fil. 4: 8).

Semua ini memerlukan waktu secara pribadi.

Kebutuhan rohani: kita harus mengisinya dengan berdoa senantiasa seperti dilakukan Daniel (dan. 6: 11).
Beribadah dengan sukacita: nyanyian ziarah Daud, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan” (Maz. 122: 1).

Tanpa anugerah dan waktu serta kesempatan yang diberikan, hati yang luka dan mimpi-mimpi yang berantakan akan lebih lama disembuhkan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.