Ads Top

PERMULAAN GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH DI INDONESIA (1936-1951)

PERMULAAN GEREJA SIDANG JEMAAT ALLAH DI INDONESIA (1936-1951)

GSJA, Assemblies Of God, GSJA Kemuliaan, SEJARAHGSJA, Assemblies Of God, GSJA Kemuliaan, SEJARAH
Gereja Sidang-sidang Jemaat Allah belum memiliki sebuah pelayanan resmi di Indonesia hingga tahun 1946, ketika Kenneth George Short, Raymond Arthur Busby, dan Ralph Mitchell Devin kembali ke Indonesia sebagai misionaris yang diutus oleh Division of Foreign Mission of the American General Council of the Assemblies of God. Namun perlu diketahui, tiga orang ini sudah tinggal di Indonesia, jauh hari sebelum pecahnya Perang Dunia II, sebagai misionaris-misionaris swakarsa dan swadana. Memang benar untuk sekian waktu lamanya mereka berkarya dibawah pengawasan Bethel Temple Mission , namun tidaklah benar bila mereka diutus oleh Bethel Temple Mission.

Berikut adalah sketsa dari karya perintisan mereka di Indonesia.


Kenneth dan Gladys Short

Pada tahun 1931, Kenneth Short mendaftarkan dirinya sebagai siswa di Sekolah Alkitab milik American Assemblies of God – Southern California Bible School (sekarang- Van Guard University). Dalam masa pendidikannya, Kenneth merasa terpanggil untuk menjadi utusan Injil di Borneo (Kalimantan). Sayang, dia mendapati bahwa American Assemblies of God belum punya pos misi di sana. Itulah sebabnya, dia menghubungi Badan Misi Christian Missionary Alliance (C&MA – Gereja Kemah Injili) yang punya pos misi di sana. Namun, kembali dia harus berjumpa dengan kekecewaan, karena C&MA, tidak dapat memberikan bantuan yang memadai.

Pada saat menginjak tahun kedua di Southern California Bible SchoolKenneth berjumpa dengan Gladys Orr, seorang gadis yang baru duduk di tahun pertama. Gladys juga merasa terpanggil untuk pergi dan melayani di Borneo (Kalimantan). Kesamaan panggilan pelayanan inilah yang kemudian membuat mereka menjadi teman dekat. Melalui koneksi Gladys jugalah, Kenneth kemudian menjalin kontak dengan beberapa orang muda dari Bethel Temple, yang beberapa di antaranya adalah para misionaris yang kembali dari Indonesia untuk keperluan cuti pelayanan.

Dengan berlalunya waktu hubungan teman dekat di antara Kenneth dan Gladys meningkat menjadi hubungan sepasang kekasih. Jadi bukan hal yang mengherankan bila tak lama sesudah menjalani prosesi wisuda, Kenneth kemudian meminta agar Gladys menikah dengan dirinya. Namun Gladys menolak karena dia masih harus menyelesaikan studinya. Dua tahun kemudian, ketika Gladys diwisuda, Kenneth datang untuk menagih janji kekasihnya. Namun, Gladys kembali menunda rencana pernikahannya, karena dia merasa mendapat dorongan kuat untuk membantu pelayanan pastoral seorang gembala wanita di pegunungan Kentucky.

Penundaan itu jelas membuat Kenneth kecewa. Namun demikian, semangat Kenneth untuk pergi ke Borneo tetap menyala-nyala. Karena itu, ketika beberapa orang dari Bethel Temple yang akan berlayar ke Hindia Belanda memberinya kesempatan untuk turut serta, Kenneth menerima tawaran itu tanpa ada keraguan sedikitpun.

Pada tahun 1936 Kenneth meninggalkan Amerika Serikat menuju ke Surabaya melalui Jepang. Dari Surabaya, dia berlayar menyeberangi Laut Jawa menuju ke pulau Kalimantan. Akhirnya pada bulan Juni 1936, dia menginjakkan kakinya di Banjarmasin, salah satu kota terpenting di Borneo.

Kenneth hanya tinggal beberapa bulan saja di Banjarmasin. Sesudah itu ia kembali melanjutkan perjalanan ke pedalaman Kalimantan dengan sebuah perahu “klotok” yang bernama “Setiawan”.

Setelah melakukan perjalanan survey ke pedalaman Kalimantan, Kenneth merasa bahwa Allah menyuruhnya tinggal di sebuah kawasan di tepi Sungai Kahayan yang dikenal dengan nama Pulang Pisau.

Selama beberapa bulan Kenneth bersaksi tentang Yesus hampir kepada setiap orang yang ada di kawasan itu. Tapi tak seorangpun bertobat hingga pembaptisan Saridjan di sungai Kahayan. Siapakah Saridjan itu? Saridjan adalah penduduk asli daerah itu.yang bersedia menjadi orang percaya seusai menyaksikan kesembuhan ilahi terjadi di dalam dirinya adiknya. Adik Saridjan buta. Namun ketika Kenneth mendoakannya, mata yang buta itu tercelik.

Langkah Sarijan – menjadi orang Kristen, di kemudian hari diikuti oleh seluruh keluarganya dan beberapa orang yang lainnya. Mereka inilah yang menjadi buah sulung dalam pelayanan Kenneth Short di Hindia Belanda.

Dua tahun kemudian Gladys Orr menyusul Kenneth Short ke Hindia Belanda dan pada bulan Oktober 1938 mereka menikah di Surabaya. Segera sesudah upacara pernikahan mereka kembali ke tempat pelayanan Kenneth di Pulangpisau. Kedatangan Gladys ternyata membawa dampak positif bagi pelayanan yang mereka rintis. Para wanita yang sebelumnya enggan bergabung dalam ibadah yang dipimpin oleh Kenneth, karena alasan kultural , kini bersedia bergabung.

Di tengah-tengah pergumulannya untuk menguasai bahasa setempat dan membantu penggembalaan suaminya. Gladys juga menyediakan waktu untuk membekali kaum wanita di tempat itu dengan ketrampilan menjahit. Dengan adanya pelayanan semacam ini, kehadiran mereka (Kenneth dan Gladys) semakin berarti di daerah itu.

Setahun setelah pernikahan mereka, pada tanggal 23 November 1939, di Kuala Kapuas, Gladys melahirkan seorang bayi lelaki yang bernama David Short. Namun, tak lama sesudah hari yang membahagiakan itu, mereka mendengar kabar bahwa Perang Dunia II telah berkecamuk di Eropa. Pada mulanya mereka berpikir untuk tetap berada di tengah hutan di Pulangpisau dan membiarkan dunia bergejolak dalam pertempuran. Namun karena serangan malaria, mereka harus meninggalkan Pulangpisau dan pergi ke Surabaya untuk berobat.

Sementara berada di Surabaya untuk keperluan berobat, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi Kantor Konsulat Amerika Serikat. Di sinilah, kemudian mereka mendapat masukan agar cepat meninggalkan Hindia Belanda karena tampaknya gelombang peperangan akan segera melanda kawasan Hindia Belanda juga. Akhirnya, demi alasan keamanan ini, Kenneth membawa isteri dan anaknya meninggalkan Indonesia. Mereka kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1940. Namun sebelum mereka kembali ke tanah air mereka, Kenneth menyempatkan untuk berpamitan dengan jemaat Pulang Pisau dan menyerahkan kepemimpinan pastral kepada beberapa jemaat yang menunjukkan kualitas rohani yang baik.

Sesudah tinggal di Amerika Serikat setahun lamanya, dan tidak terdengar kabar bahwa kawasan Asia terkena dampak dari Perang Eropa, keluarga Short memutuskan untuk kembali ke Kalimantan. Mereka berencana untuk menumpang kapal yang akan berlayar pada akhir bulan Desember 1941, Namun sayang, sebelum rencana tersebut terwujud, Perang Pasifik keburu pecah. Jadi, mereka tak punya pilihan lain terkecuali tinggal di Amerika Serikat sampai perang berakhir.


Ralph Mitchell dan Edna Lucy Devin

Ketika Edna Devin merasa terpanggil untuk melayani sebagai utusan Injil, ia sudah menjadi ibu dari lima anak dan isteri dari Ralph Mitchell yang waktu itu masih belum mengalami kelahiran baru. Allah berjanji kepada Edna untuk menyelamatkan seluruh keluarganya dan membawa mereka ke sebuah kepulauan di tengah lautan. Pada tahun 1934, janji tersebut mulai diwujudkan ketika Ralph Mitchell Devin memutuskan untuk menerima Kristus usai mendengar khotbah C.M. Ward di Bethel Temple, Seattle.

Empat tahun kemudian karena dorongan ilahi yang begitu kuat, Ralph Mitchell Devin memutuskan untuk meninggalkan bisnis mereka (furniture) yang amat berhasil di kota Seattle dan pergi ke Hindia Belanda sebagai utusan Injil. Mula-mula Ralph mencoba melamar sebagai utusan Injil di badan misi CMA yang diketahuinya telah memiliki pos-pos misi di Hindia Belanda. Namun permohonan Ralph ditolak karena alasan usia (sudah terlalu tua) dan keluarga (terlalu banyak anak) dan diragukan kemampuannya untuk menguasai bahasa setempat.

Mendengar penolakan itu, meski kecewa, Ralph tidak putus asa. Dia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Hindia Belanda sebagai misionaris swadana (melayani dengan pembiayaan sendiri). Maka, pada tahun 1938, keluarga Devin meninggalkan Seattle menuju Hindia Belanda.

Sewaktu mereka meninggalkan Seattle, Edna masih menderita penyakit kulit yang amat mengganggu. Namun, pada bulan Maret 1938, sesaat sebelum kapal yang membawa mereka berlabuh di Makasar, terjadi sebuah mukjizat. Penyakit kulit yang menimpa Edna ketika mereka meninggalkan Amerika Serikat sirna begitu saja.

Selama berada di Makasar, Keluarga Devin tinggal di rumah Robert A. Jaffray. Setelah tinggal beberapa hari di sana, mereka melanjutkan perjalanan ke Ambon. Kali ini mereka ditemani oleh seorang pria dari Seattle yang bernama Floyd C. Brown. Bagi keluarga Devin, Floyd adalah seorang penolong yang amat mereka butuhkan, karena sebelum mereka sanggup berbicara dalam bahasa setempat, Floyd lah yang menjadi penerjemah bagi mereka. Floyd dengan setia menemani pelayanan keluarga Devin selama enam bulan lamanya di Maluku sebelum kembali ke Amerika Serikat.

Segera sesudah tiba di Maluku, keluarga Devin mendirikan semacam kantor pusat kegiatan penginjilan di Ambon. Mula-mula mereka bekerjasama denagn Job Silloy, seorang gembala dari De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie (GPdI). Namun kerjasama ini hanya bertahan enam bulan lamanya karena Ralph dan Edna merasa kurang cocok dengan praktek-praktek ibadah dan keyakinan doktrinal dari gereja tersebut, seperti:

  • Menggunakan anggur beralkohol dalam perjamuan kudus
  • Membaptiskan orang dengan formula yang diyakini oleh penganut “Jesus Only“
  • Melarang wanita terlibat dalam pelayanan mimbar.

Setelah berpisah dari Job Siloy, Ralph Devin memutuskan untuk mendirikan Bethel Indies Mission pada bulan September 1938. Dua tahun kemudian, pada tanggal 24 April 1940, organisasi ini menerima pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda. Beberapa orang yang duduk dalam kepengurusan organisasi ini:
Ketua               : Ralph Mitchell Devin
Wakil Ketua    : Raymond Arthur Busby
Sekretaris        : Wijma

Ralph M. Devin menggunakan rumahnya di Kampung Mardika sebagai kantor pusat dari Bethel Indies Mission. Di samping berfungsi sebagai kantor pusat organisasi, rumah itu juga berfungsi sebagai tempat ibadah.

Para tetangga keluarga Devin kebanyakan orang Muslim. Namun demikian mereka bersikap baik dan tidak memusuhi keluarga Devin. Ironisnya, sesama orang Kristen dari Gereja Protestan Maluku, cenderung memusuhi mereka, karena mereka menganggap keluarga Devin menyebarkan ajaran sesat.

Setelah pindah beberapa kali , Bethel Indies Mission akhirnya bisa membangun sebuah bangunan gereja yang sederhana di sebuah kawasan yang disebut Soos Laan, di kota Ambon. Dinding dari bangunan tersebut dibuat dari kayu, sementara atapnya dibuat dari daun pohon sagu.

Pada tahun 1939, Ralph Devin menyelenggarakan sebuah kebaktian kebangunan rohani di kota Ambon. John Sung, seorang penginjil karismatik dari daratan Tiongkok diundang untuk penjadi pembicara tunggal. Gaya berkhotbah John Sung yang amat menarik dan karunia kesembuhan yang menyertai kebaktian yang dipimpinnya menarik ratusan orang untuk datang. Tidak sedikit dari antara orang-orang yang hadir bertobat dan menyerahkan hidupnya bagi Kristus. Beberapa orang yang layak disebut di sini karena mereka nantinya menjadi jemaat mula-mula dari gereja yang digembalakanoleh Ralph M. Devin adalah keluarga Buthe Berhitu, keluarga Mataheru dan keluarga Tan.

Di samping menggembalakan jemaat di Ambon, Ralph Devin juga mengunjungi dan memberitakan Injil di beberapa pulau lain seperti Saparua, Seram, Tujuh dan Bacan. Namun, karena pecahnya Perang Pasifik, aktivitas penginjilan mereka terpaksa dihentikan. Ralph membawa keluarganya keluar dari Hindia Belanda pada bulan Januari 1942, beberapa saat sebelum Jepang merebut kekuasaan dari Belanda. Sebelum pergi, Ralph menyerahkan kepemimpinan Bethel Indies Mission kepada The Tjoan Tjoe.


Raymond dan Beryl Busby

Raymond Busby lahir dan besar di dalam sebuah keluarga yang tekun menjalankan altar keluarga pada pagi dan malam hari. Meskipun begitu, dia baru merasa benar-benar mengalami pengalaman kelahiran baru ketika ia berusia 19 tahun. Tak lama sesudah menerima pengalaman itu, Busby menikah seorang gadis yang bernama Beryl Hooker.

Baik Raymond maupun Beryl merasakan panggilan untuk menjadi utusan Injil di Hindia Belanda. Beryl, malahan, mendapat pengalaman rohani yang khusus. Ketika berusia 9 tahun, melalui visi, dia melihat seorang wanita dengan pakaian yang “aneh”. Beberapa tahun kemudian, ketika dia menginjakkan kakinya di Tanah Karo, Sumatera Utara, dia terkejut pada saat melihat para wanita mengenakan pakaian-pakaian yang serupa dengan pakaian yang dikenakan oleh wanita yang muncul dalam visi yang diterimanya.

Meski menerima panggilan khusus semacam itu, keluarga Busby terus menunda rencana keberangkatan mereka ke Hindia Belanda karena mereka amat mengkhawatirkan putera tunggal mereka, Buddy Ray – mereka tidak ingin Buddy menderita penyakit daerah tropis. Itulah sebabnya mereka memutuskan untuk menunda keberangkatan mereka hingga Buddy tamat sekolah. Namun, secara tiba-tiba Buddy wafat pada usia 9 tahun. Pengalaman pahit ini akhirnya membawa kembali keluarga Busby pada panggilan misi ke Hindia Belanda.

Kurang dari setahun setelah wafatnya Buddy, Raymond mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pegawai di kantor pos Seattle. Bersama Beryl, isterinya, ia kemudian meninggalkan Seattle menuju Hindia Belanda sebagai misionaris swakarsa dan swadana.

Pada tahun 1939, keluarga Busby tiba di Medan. Karena kedekatan hubungan dengan Bethel Temple Mission, setiba di Hindia Belanda, keluarga Busby melayani di bawah payung organisasi ini. Namun hubungan kerja semacam ini tak bertahan lama, karena Busby memutuskan untuk bergabung dengan Bethel Indies Mission. Seperti yang telah dicantumkan di atas, Busby akhirnya menjadi orang kedua terpenting dalam organisasi ini.

Tidak banyak yang diketahui mengenai aktivitas keluarga Busby sebelum pecahnya Perang Pasifik., terkecuali bahwa dia pernah berjuang untuk merintis dan mengembangkan gereja di Sumatera itu. Busby juga sempat beberapa kali berkunjung dan melayani sebuah jemaat Gereja Pentakosta di Jl.Pecenongan 54, Jakarta yang digembalakan oleh sahabatnya, misionaris dari Bethel Temple, Seattle – Richard van Klaveren..


Kembali ke Indonesia

Ketika Perang Pasifik tengah berkecamuk dengan hebatnya, Ralph Mitchell Devin dan Raymond Arthur Busby menggabungkan dirinya sebagai bagian dari pelayan Injil di Northwest District Council of the American Assemblies of God. Mereka kemudian diminta untuk melayani di daerah Seattle. Ralph Mitchell Devin menggembalakan sebuah gereja yang bernama White Center Assembly of God; sementara Raymond Busby melayani sebagai gembala sidang West Assembly of God sembari mengajar paruh waktu di Northwest Bible Institute.

Kenneth Short, yang telah memegang beslit kependetaan Assemblies of God sejak tahun 1935, juga sempat menggembalakan sebuah gereja kecil di Buckey, Washington, sebelum diminta oleh kantor pusat American Assemblies of God untuk menangani penerbitan majalah misionaris.

Pada tanggal 14 Agustus 1945, kekuatan Bala Tentara Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu, Tiga hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Belanda yang sebelumnya menjajah negeri ini, tidak rela melihat daerah jajahannya yang subur dan kaya lepas begitu saja dari tangannya. Mereka ingin mengambil kembali tanah jajahan mereka. Di sini kemudian timbul benturan kepentingan dengan pihak Indonesia yang tak ingin di jajah kembali. Maka, terjadilah apa yang dikenal dengan nama Perang Revolusi (1945-1950).

Justru dalam tahun-tahun yang penuh pergolakan itulah, tiga keluarga perintis Gereja Sidang Jemaat Allah, keluarga Short, Devin, dan Busby kembali ke Indonesia. Kali ini mereka tidak berangkat sebagai misionaris-misionaris swakarsa dan swadana lagi, melainkan sebagai misionaris-misionaris resmi yang diutus oleh Division of Foreign Mission of American Assemblies of God.


Konggres I (1946-1951)

Dari tahun 1946 hingga 1951, Bethel Indies Mission adalah nama resmi bagi apa yang kita kenal sekarang sebagai Gereja Sidang Jemaat Allah. Dalam Konggres I di Jakarta, 1-5 Januari 1951, semua peserta konggres setuju untuk mengubah nama Bethel Indies Mission menjadi the Assemblies of God in IndonesiaPergantian Nama dari Bethel Indies Mission ke Assemblies of God of Indonesia




Pergantian Nama dari Bethel Indies Mission ke Assemblies of God of Indonesia

Konggres pertama dari Bethel Indies Mission berlansung di Jakarta dari tanggal 1 hingga 5 Januari 1951. Mereka yang hadir pada waktu itu membuat dua keputusan penting.

  • Pertama, mereka setuju untuk mengubah nama organisasi dari Bethel Indies Mission menjadi the Assemblies of God of Indonesia
  • Kedua, mereka memilih Ralph Mitchell Devin sebagai ketua umum; Raymond Arthur Busby sebagai wakil ketua umum dan Leonard Lanphear sebagai sekretaris umum.

Nama baru ini segera didaftarkan ke pemerintah Republik Indonesia.

Akhirnya, tanggal 29 Januari 1951, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengakui status hukum dari Assemblies of God of Indonesia, yang dulu dikenal dengan nama Bethel Indies Mission.

Entitas hukum dari organisasi ini diteguhkan oleh keputusan Departemen Kehakiman Republik Indonesia nomor J.A. 8/11/16, bertanggal 10 Pebruari 1951

Sumber : 
1. Buku "Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah dalam Lintasan Sejarah" Oleh : Pdt. Gani Wiyono
2. www.gsja.org

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.