Ads Top

Kristen bermental Baja

Ironman, Mental BajaBeberapa minggu yang lalu sebelum diadakannya pemilihan para Caleg di Indonesia, ada berita-berita yang sepertinya menggelikan telinga yaitu beberapa rumah sakit jiwa mempersiapkan ruangan untuk menampung kemungkinan beberapa dari para Caleg akan mengalami gangguan jiwa, dan ada juga yang memprediksikan akan ada diantara mereka yang akan bunuh diri, karena tidak siap menerima kenyataan menang atau kalah, terpilih atau akan terlupakan. Lalu saat ini ada stasiun TV yang membahas tentang “Bergugurannya para caleg” dan dalam tayangan itu di informasikan beberapa dari para caleg yang benar-benar menjadi stress dan sampai ada yang gila dan berperilaku layaknya seorang anggota dewan, selain itu di beritahukan juga ada yg meninggal karena bunuh diri.

Sungguh ini merupakan suatu realita yang tak dapat dianggap sebatas berita, tapi menggambarkan sebuah kondisi pribadi - mental yang sebenarnya sedang menjalar dengan luar biasa, semacam virus yang siap menulari mereka yang tidak memiliki “antibody” yang sehat – mental yang sehat dan kuat. Kerapkali seseorang hanya memiliki mental siap untuk menang namun tidak siap untuk kalah. Padahal dalam segala perkara baik dalam usaha, pekerjaan, studi, keluarga, hubungan dsb, ada saat dimana semua tidak terjadi seperti apa yang kita impikan atau idamkan.

Kita sudah berusaha semampu kita atau bahkan kita sudah mengerahkan tenaga, akal, bahkan sampai ada yang menghalalkan segala cara supaya impian atau tujuannya tercapai. Tapi realitanya apakah semua itu bisa tercapai?.. belum tentu kan?.. Dibalik sebuah kesuksesan ada ketidaksuksesan, dibalik keberhasilan ada kegagalan yang siap menghadang dikemudian….

Bagaimana dengan mental kita sebagai anak-anak Tuhan. Betul kita memiliki iman yang besar, kita percaya Tuhan melakukan perkara ajaib-Nya untuk menolong atau membela hak kita. Tapi apakah benar demikian?...apakah Allah selalu setuju dengan semua impian dan cita-cita kita, walaupun kita telah meminta lain orang mendoakan pergumulan kita, atau bahkan kita sudah berdoa puasa dan kita melakukan segala upaya yang berkaitan dengan iman, tapi tetap saja ada saatnya kita tidak menerima seperti apa yang kita impikan.

Bagaimana kita menghadapi realita iman yang seperti ini?... apakah kita akan menjadi stress, tidak lagi memiliki iman yang murni lalu mencari jalan keluar yg lain…atau kita tidak lagi percaya 100% bahwa Allah masih berpihak kepada kita, walaupun Dia tidak melakukan seperti apa yang kita impikan?... siapkah kita menerima realita iman yang seperti ini?....

Sumber: Renungan Warta Jemaat GSJA "Kemuliaan"
Penulis: Pdt. Jonner Sirait, M.A

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.