Ads Top

Merayakan Natal

SEANDAINYA waktu bisa diputar ulang, mungkin banyak umat Kristiani yang ingin kembali ke Natal yang pertama, untuk menyaksikan bagaimana suasana di Betlehem, tatkala Yesus dilahirkan. Dalam suasana itu umat Kristiani dapat merasakan sendiri Sang Kristus dalam kesunyian, yang membuat setiap jiwa lebih peka dalam mendengar suara-Nya.

Merasakan Kristus dalam kesederhanaan akan menggugah empati terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan. Ikut merasakan keprihatinan mereka yang dilanda bencana atau mereka yang sedang dirundung kesedihan. Merasakan Kristus dalam hembusan damai, juga mengusir jiwa yang gelisah dan galau.

Sementara semua penduduk desa kecil di Betlehem itu sudah tertidur pulas, di suatu tempat, tepatnya di sebuah kandang sederhana, terlihat Yusuf dengan Maria yang sedang menggendong Sang Mesias. Serombongan gembala datang dengan ekspresi yang tak pernah terlihat sebelumnya.

Suasana pun menjadi begitu hangat, tenang, teduh, dan dipenuhi kedamaian yang tak terkatakan. Natal pertama memang diwarnai dengan kedamaian.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Yesus lahir dalam kesederhanaan. Dalam theologi Kristiani, ungkap para rohaniwan, Yesus adalah Raja, jadi sebenarnya Dia dapat memilih tempat di mana pun Dia akan dilahirkan. Yesus bisa saja memilih istana yang megah dan penuh keindahan, tetapi sebaliknya Yesus memilih kandang dengan bau yang mungkin saja menyengat. Dia bisa saja memilih untuk diletakkan di pembaringan yang empuk, tapi Dia justru memilih palungan.

Yesus bisa saja memilih sutra termahal untuk menyelimuti tubuh-Nya, tetapi Dia membiarkan kain lampin yang kasar dan sederhana membungkus-Nya. Saat Yesus lahir, bisa saja Dia mengundang pembesar dan golongan bangsawan untuk datang melihat-Nya, tetapi Dia justru memilih para gembala sebagai tamu kehormatan!

Kelahiran Kristus memang sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun anehnya, keluh para rohaniwan, Natal sekarang ini sudah identik dengan kemewahan. Bahkan mulai kuat adanya anggapan bahwa kalau tidak mewah, bukan Natal namanya.

Karena itu, para rohaniwan melakukan kritik diri, introspeksi, dan menyerukan transformasi kekristenan menjadi agama pembebasan bagi ketidakmanusiaan dan ketidakadilan.

Natal merupakan pesan kasih sayang dan keadilan, bukan sekadar pesta konsumtif atau mabuk-mabukan. Natal adalah hari suci bagi pembaruan diri, menjadi manusia seutuhnya yang menghormati kaum yang lemah dan menderita.

Karena itu, Natal hendaknya menjadi pesan perdamaian, kasih dan toleransi serta empati bagi sesama insan yang tak luput dari kekurangan dan ketidaksempurnaan.

Dari:
http://www.inilah.com (Ahluwalia)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.