Ads Top

Mengapa Yesus Kristus Lahir Melalui Anak Dara?

Pertanyaan yang sering diajukan berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus (Natal) adalah: Mengapa Yesus Kristus harus lahir melalui anak dara? Tidak cukupkah Ia lahir seperti manusia pada umumnya? Bagaimana mungkin seorang perempuan yang belum bersuami dapat melahirkan anak?

PENGGENAPAN JANJI ALLAH
Ketika kita menilai peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, maka yang perlu kita ketahui adalah Allah telah menggenapi janji-Nya. Pada saat manusia melanggar perintah Allah dan jatuh dalam dosa (Kej. 3), maka Allah berfirman (bernubuat) kepada manusia, bahwa “keturunan perempuan” akan meremukkan kepala si ular (Iblis). Istilah “keturunan perempuan” sebenarnya bukanlah istilah yang wajar dalam tradisi Yahudi, mengingat garis keturunan selalu dihubungan dengan laki-laki, bukan perempuan (bnd. Kej. 5). Namun faktanya Musa, penulis Kitab Kejadian, tidak menuliskannya “keturunan laki-laki,” sebaliknya dituliskan “keturunan perempuan” (Kej. 3:15). Apakah Musa telah melakukan suatu kekeliruan? Tentu saja tidak! Ia menulis apa yang Allah janjikan bagi keselamatan manusia yang telah jatuh dalam dosa, bahwa melalui “keturunan perempuan” akan lahir Juruselamat manusia. Artinya Sang Juruselamat manusia dilahirkan bukan dari hasil hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi melalui “perempuan” saja.
Janji Allah ini kemudian diberitakan-Nya kembali pada zaman Nabi Yesaya, yang mengatakan: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda (gadis) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes. 7:14). Nubuatan ini mengacu pada berita yang sama, bahwa Sang Imanuel, Juruselamat manusia, akan lahir melalui seorang gadis muda. Maka sesuai waktu dan rencana-Nya (Gal. 4:4), Allah menggenapi janji tersebut melalui seorang gadis muda bernama Maria (Luk. 1:34-38). Bagaimana Allah melakukan-Nya? Sesuai janji-Nya, Ia melakukannya tanpa keterlibatan seorang laki-laki (Yusuf).
Dalam silsilah Yesus Kristus, Matius memberikan penjelasan yang menarik tentang hal ini. Dari Matius 1:2-15, ia menggunakan bentuk kata kerja aktif untuk kata “memperanakkan.” Namun ketika ia sampai pada kelahiran Yesus Kristus (ay. 16), ia mengatakannya dengan bentuk yang berbeda: (1) Yusuf tidak dikatakan memperanakkan Yesus Kristus secara langsung seperti silsilah sebelumnya. (2) Kelahiran Yesus dihubungkan dengan Maria, bukan Yusuf. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tampaknya juga memahami hal ini dengan tepat melalui penggunaan kata yang berbeda. Untuk silsilah sebelumnya, seperti “Abraham memperanakkan Ishak,” LAI memakai kata “memperanakkan” yang berarti keterlibatan secara aktif Abraham dalam menurunkan Ishak. Namun ketika menerjemahkan kelahiran Yesus, LAI menggunakan kata: “melahirkan” yang menjelaskan bahwa kelahiran Yesus itu tidak ada keterlibatan Yusuf secara langsung dalam memperanakkan-Nya. (3) Kata “melahirkan” (ay. 16) berbentuk pasif, sehingga hal ini menjelaskan, meskipun Kelahiran Yesus Kristus melalui seorang gadis Maria, namun kelahiran-Nya adalah mutlak tindakan Allah sendiri, yakni bagaimana Allah (Putra) menjadi manusia (bnd. Yoh. 1:14; Mat. 1:20; Luk. 1:35). Jadi, Yesus Kristus melalui seorang gadis bernama Maria adalah penggenapan janji Allah, di mana melalui Yesus Kristus, manusia berdosa dapat diselamatkan (bnd. Yoh. 3:16-21, 14:6).

ALLAH YANG KUDUS BERJUMPA DENGAN MANUSIA BERDOSA
Keberdosaan manusia telah membuat dirinya tidak layak berdiri di hadapan kekudusan Allah. Manusia yang mencoba berhadapan muka dengan Allah secara langsung pasti binasa. Kondisi ini sangat mengerikan, karena kekudusan Allah tidak dapat berjumpa dengan keberdosaan manusia.
Ketika Musa ingin berhadapan muka dengan Allah secara langsung, apa yang terjadi? Allah harus melindunginya dengan tangan-Nya, menempatkannya di lekuk gunung, dan apa yang dapat dilihat Musa? Musa hanya melihat belakang Allah, sebab tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah dapat hidup (Kel. 33:18-23).
Namun melalui kelahiran anak dara, Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya. Allah memakai kelahiran melalui anak dara agar manusia dapat melihat-Nya secara langsung. Kelahiran anak dara merupakan sarana yang tepat di mana keilahian Allah dapat bersatu dengan kemanusiaan, seperti perkataan Yohanes: “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14). Mengapa Allah harus menjadi manusia? Sebab tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, tetapi Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dia yang menyatakan-Nya (Yoh. 1:18). Artinya, Allah harus menjadi manusia, supaya manusia dapat berjumpa dengan-Nya.
Hal ini menjelaskan dua hal: Pertama, Kekristenan tidak pernah menempatkan manusia Yesus menjadi Allah, seolah-olah kekristenan mengakui bahwa manusia biasa dapat menjadi Allah. Sebaliknya kekristenan mengakui Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati, sehingga melalui-Nya, Allah yang kudus dapat berjumpa dengan manusia yang berdosa. Melalui-Nya pula Allah yang kudus memperdamaikan diri-Nya dengan manusia berdosa (2Kor. 5:17-19). Jadi, Allah memakai kelahiran anak dara, agar diri-Nya dapat berjumpa dengan manusia berdosa. Dengan jalan ini pula, yakni melalui Yesus Kristus (Allah dan Manusia Sejati), Ia membuka jalan bagi keselamatan manusia (Yoh. 14:6).
Kedua, Kekristenan tidak pernah mengakui bahwa Yesus berubah menjadi Allah pada saat Ia dibaptis di sungai Yordan (bnd. Mat. 3:16-17), seperti pengakuan bidat-bidat Kristen. Sebaliknya, Alkitab menjelaskan bahwa kelahiran Yesus Kris-tus melalui anak dara membuktikan Dia adalah Allah yang menjadi manusia, bukan manusia yang diangkat jadi Allah. Yohanes 1:1-3, 14-18; 8: 42, 58; dan Wahyu 1:8, 17-18 membuktikan tentang praeksistensi Yesus, yang adalah Allah, dan dengan cara kelahiran melalui anak dara, Ia hadir di tengah-tengah manusia berdosa, agar barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal (Yoh. 3:16).

MENJAMIN KEMANUSIAAN YESUS TIDAK BERDOSA
Mungkin kita bertanya, “kelahiran melalui manusia yang berdosa, sudah pasti berdosa; bagaimana kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria dapat tidak berdosa? Bukankah Maria adalah seorang berdosa?
Maria adalah manusia berdosa adalah benar, sebab kekristenan tidak pernah mengakui Maria sebagai seseorang yang dilahirkan kudus oleh Allah. Alkitab sendiri menjelaskan bahwa Maria memerlukan Allah sebagai Juruselamatnya (Luk. 1:47), dan ia juga mempersembahkan korban persembahan sebagai penghapusan dosa (Luk. 2:22-24; bnd. Im. 12:6-8). Ini berarti Maria adalah manusia berdosa. Namun bagaimana kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria dapat menjamin ketidakberdosaan-Nya?
Alkitab menjelaskan bahwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara tidak bergantung pada keberadaan Maria yang berdosa, tetapi “Kuasa Allah yang Mahatinggi,” sehingga “anak yang akan dilahirkannya adalah kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Perkataan Malaikat kepada Maria tersebut menjawab dua hal: (1) Peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara adalah karena kuasa Allah; (2) Kuasa Allah sendiri yang menjamin kemanusiaan Yesus tidak berdosa (kudus). Hal ini sama seperti yang diungkapkan Matius, ketika ia menjelaskan kelahiran Yesus melalui Maria. Matius menggunakan bentuk kata pasif untuk kata “melahirkan,” meskipun Yesus lahir dari Maria. Penggunaan bentuk pasif tersebut menjelaskan bahwa Allah Roh Kuduslah yang menjamin kemanusiaan Yesus yang dikandung Maria adalah kudus. Dengan kata lain, kelahiran melalui anak dara Maria dapat menjamin kekudusan kemanusiaan Yesus Kristus dalam arti: (1) tidak ada keterlibatan manusia berdosa (laki-laki) di dalamnya; (2) Keterlibatan pasif Maria. Artinya, Yesus lahir dari rahim Maria, tetapi kekudusan Yesus bukan bergantung pada keberdosaan Maria, tetapi peran Roh Kudus di dalamnya. Malaikat mengatakan: “Sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20). Itulah sebabnya di dalam pengakuan Iman rasuli dikatakan: “Aku percaya kepada Yesus Kristus, yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.”

MAKNA KELAHIRAN MELALUI ANAK DARA BAGI IMAN KITA
Kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria memiliki implikasi yang signifikan bagi iman kita: Pertama, Allah tidak pernah berdusta terhadap janji-Nya. Kedua, Allah selalu berinisiatif untuk mengasihi kita. Ketiga, Kita memiliki jalan pendamaian melalui Yesus Kristus yang adalah Allah sejati dan manusia sejati. Keempat, Yesus adalah satu-satunya jalan (perantara) bagi kita berjumpa dengan Allah (bukan melalui Maria, sebab kelahiran melalui anak dara menekankan siapa Yesus sebenarnya, bukan menekankan status Maria). Kelima, Yesus adalah satu-satunya Juruselamat manusia, sebab di dalam-Nya kita mendapatkan pendamaian dengan Allah.
Kiranya dalam menyambut atau memperingati Natal tahun ini, iman kita semakin dikuatkan, berakar, bertumbuh, dan berbuah di dalam Dia. Kiranya Natal tidak membuat kita sibuk, tanpa memperoleh pengertian yang mendasar darinya. Sebaliknya, Natal menjadikan kita semakin mengenal Dia. Amin.

http://gkagloria.or.id/artikel/an09.php

2 komentar:

  1. @Belman tumanggor:
    Makasih buat kunjungannya di blog kami. Kami harap sdr.Belman mendapat berkat melalui blog ini. Salam kami buat Gsja Petra.
    Gbu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.