Ads Top

Bukan Miskin, Tapi Rendah Hati



Tidak lahir di istana yang megah, tapi memilih lahir di Betlehem, sebuah desa kecil tak populer. Bukan dibaringkan di spring bed kualitas no. 1, tapi diletakkan di palungan. Tidak ada diselimuti dengan wol, sebagai gantinya hanya kain lampin. Bukan dalam penyambutan yang meriah dan penuh semarak, melainkan memilih lahir di tengah kesunyian.

Kita pun berpikir, sedemikian miskinkah bayi Yesus, sehingga Mesias harus lahir dalam keadaan seperti itu? Meski Yesus lahir dalam kesederhanaan, bukan berarti Yesus miskin. Natal, cermin kemiskinan? Saya rasa kurang tepat, tapi kalau natal sebagai cermin kerendahan hati, saya sangat setuju!

Kalau Yusuf dan Maria miskin, tentu mereka tak akan mendatangi penginapan, bukan? Bukankah Lukas mencatat bahwa tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan? Artinya, mereka punya uang untuk tidur di hotel, tapi hotel sudah full atau bisa saja pihak hotel yang tidak mau beresiko melihat Maria sudah hamil tua seperti itu. Mereka sudah berusaha mendatangi semua hotel yang ada, tapi apa daya petugas resepsionis selalu berkata bahwa hotel sudah penuh.

Natal, cermin kerendahan hati. Begitu rendah hatiNya sang Mesias, sehingga Ia tidak peduli kalau lahir di tengah kesederhanaan bahkan tanpa semarak sama sekali. Begitu rendah hati, sehingga Ia mau menjadi bayi kecil yang tak berdaya sama sekali. Bahkan Ia yang adalah Penasihat kekekalan mau memberi diriNya untuk diasuh oleh manusia. Apa lagi yang mau kita katakan untuk menggambarkan hal itu selain kerendahan hati?


http://www.renungan-spirit.com

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.