Ads Top

KEBANGKITAN KRISTUS MEMBERI PENGHARAPAN

1 Korintus 15:14-22
Kebangkitan Kristus memberikan kepada kita pengharapan melebihi apapun. Hari ini, kita akan bersama-sama merenungkan satu bagian Alkitab yang menjelaskan kaitan erat antara kebangkitan Kristus yang berdampak pada pengharapan dan hidup umat Tuhan sampai selama-lamanya.

Pertama, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan perubahan hidup (ayat 9-11).

Paulus menjelaskan bahwa Injil itu berisi kematian dan kebangkitan Kristus. Tetapi itu tidak cukup sampai di situ, kebangkitan-Nya memberi pengharapan akan adanya perubahan hidup yang ia alami (ayat 9-11). Perubahan hidup apa yang dialami Paulus?

Pertama, perubahan status (ayat 9-10a). Paulus dahulu bernama Saulus yang berkobar-kobar “melayani” Allah dengan menganiaya pengikut Jalan Tuhan (Kis. 9:1-2), tetapi ketika Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya di jalan menuju Damsyik (Kis. 9:3-9), jalan hidupnya berubah dari seorang penganiaya jemaat Jalan Tuhan menjadi pemberita Injil yang sangat setia sampai akhir hidupnya. Dulu, seorang Saulus adalah seorang yang binasa meskipun mengaku diri “melayani” Allah, tetapi setelah Tuhan melawatnya, seorang Saulus berubah menjadi Paulus yang telah diselamatkan. Inilah perubahan status yang ia alami. Bagaimana dengan kita? Biarlah kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada tahun ini bukan menjadi suatu perayaan rutinitas, tetapi membawa signifikansi penting, yaitu kita benar-benar percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Sebagaimana anugerah Tuhan menyentuh dan melawat hidup Paulus dan mengubah statusnya dari seorang pendosa menjadi seorang yang diselamatkan, maka biarlah kebangkitan-Nya ini juga melawat dan menyentuh hati dan pikiran kita, sehingga anugerah-Nya pun dapat kita alami.

Kedua, perubahan arah hidup. Setelah Paulus diubahkan statusnya dari seorang pendosa menjadi orang yang diselamatkan, ia tidak berpangku tangan, melainkan kita semakin bekerja keras (baca ayat 10b-11). Setelah diselamatkan, dia makin giat memberitakan Injil dan melayani Allah. Lebih uniknya, meskipun dia makin giat bekerja keras demi Allah, dia tetap menyadari bahwa itu adalah anugerah Allah, dan bukan kehebatan dirinya sendiri (ayat 10b). Kembali, di sini, kita mendapatkan pelajaran berharga dari seorang Paulus. Ia bukan hanya rasul Kristus yang paling pandai dan setia, tetapi dia juga seorang rasul yang rendah hati. Bagaimana dengan kita? Kita sering kali terbuai dengan status yang diubahkan. Kita pikir setelah kita diselamatkan, kita bisa menganggur dan tidak usah berbuat baik demi kemuliaan-Nya. Dari Paulus, kita belajar bahwa setelah diselamatkan, kita harus semakin giat bekerja keras melayani Allah dan memberitakan Injil. Ke mana saja kita diutus oleh-Nya, marilah kita tetap setia pada panggilan-Nya untuk memberitakan Injil. Mengapa kita bisa terus setia meskipun harus mengalami kesulitan? Karena ada anugerah Allah menyertai dan memimpin kita. Dengan demikian, orang Kristen yang telah mengalami anugerah kebangkitan Kristus adalah orang yang justru semakin berapi-api melayani Tuhan dan memberitakan Injil sambil tetap mengakui bahwa itu semua semata-mata merupakan anugerah Allah.


Kedua, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan kepastian iman (ayat 14, 17). Pengharapan akan perubahan hidup tidak bisa ada jika tanpa pengharapan akan kepastian iman. Oleh karena itu, Paulus menegur jemaat Korintus di mana pada waktu itu ada jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan Kristus dengan alasan orang yang mati tidak bisa hidup lagi. Kepada mereka yang tidak percaya, Paulus menegur dan menguatkan mereka, bahwa Kristus sungguh-sungguh hidup dan bangkit. Jika Kristus tidak bangkit, Paulus mengatakan sia-sialah pemberitaan Injil yang dia sampaikan dan sia-sialah juga kepercayaan mereka. Dengan kata lain, kebangkitan Kristus adalah inti Injil sejati dan iman Kristen. Injil yang memberitakan hanya kematian Tuhan Yesus yang tidak bangkit, belum disebut Injil, karena fakta mengatakan bahwa semua pendiri agama, filsafat, kebudayaan, dll pasti mati, dan itu sama saja. Tetapi ketika Kristus bangkit dari kematian, ini berita sukacita yang tidak bisa dicapai oleh semua agama, filsafat, kebudayaan, dll. Berita sukacita apa yang terkandung di dalam kebangkitan Kristus? Yaitu, Kristus bangkit dan memberikan kepastian iman di dalam dua hal, yaitu:

Pertama, kepastian iman yang berkaitan dengan keselamatan. Di ayat 19, Paulus mengemukakan bahwa jika kita hanya menaruh pengharapan pada Kristus yang mati dan tidak bangkit, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Mengapa? Karena sama seperti semua pendiri agama, filsafat, etika, kebudayaan, dll, mereka semua mati dan para pengikutnya tidak mendapatkan kepastian pengharapan. Para penganut agama dengan susah payah berbuat baik supaya dia dapat “diselamatkan”, mengapa? Karena para pendiri agama mereka tidak dapat menyelamatkan mereka. Tetapi puji Tuhan, Kristus bukan hanya mati, tetapi Ia bangkit membuktikan Dia telah menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut, serta memberikan keselamatan dan pengharapan kepastian iman bahwa di dalam Kristus sajalah, ada jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6) dan di luar Dia, mutlak tidak ada jalan keselamatan (Kis. 4:12). Kebangkitan-Nya juga menjamin bahwa ketika kita diselamatkan, kita pasti selama-lamanya diselamatkan sampai pada kesudahannya (Yoh. 6:40, 44), mengapa? Karena Dia yang memulai keselamatan, Dia pula lah yang menggenapkannya. Kristus yang telah bangkit menjamin keselamatan dan kemenangan kita terus-menerus melawan setan. Haleluya!

Kedua, kepastian iman yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh. Ayat 16, Paulus menyinggung sedikit tentang kebangkitan orang mati. Kebangkitan Kristus menjamin bahwa akan ada kebangkitan orang mati. Lalu, bagian ini diuraikan secara jelas di ayat 35-58 tentang natur kebangkitan tubuh. Kita bisa beriman pada kebangkitan tubuh hanya karena kita sudah beriman pada kebangkitan Kristus yang bersifat jasmaniah. Dan spt Paulus, kita bisa menantang iblis dan menyatakan kemenangan umat pilihan-Nya karena kemenangan Kristus, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor. 15:55-57)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.