Created (c) by Princexells Seyka (Princelling Saki)

Jumat, 29 Agustus 2008

Orang Kristen 50%

Do you want to share?

Do you like this story?

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef 6:10-12).
Douglas Hyde, seorang eks-anggota partai komunis yang lalu bertobat menjadi Kristen dalam bukunya Dedication and Leadership memaparkan beda yang menyolok antara orang komunis dan orang Kristen, yaitu bahwa setiap orang komunis selalu berusaha untuk "being one hundred percenters in the world of fifty percenters", sementara orang Kristen mayoritas adalah fifty-percenter! Saya kira tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa gereja Tuhan hari ini dipenuhi oleh orang Kristen 50%.

Di abad ke-21 ini, gereja Tuhan semakin tidak berdampak pada dunia, dan anak-anak Tuhan hanya menjadi bahan tertawaan si Iblis. Mengapa? Karena kita tidak memiliki konfiksi iman yang mestinya secara radikal mentransformasi hidup setiap orang percaya. Kita hanya segerombolan fifty percenters di dalam dunia ini (dan seharusnya malu dengan orang-orang komunis yang ateis).

Kristus Yesus yang kita sembah dan layani dan ikuti adalah seorang one hundred percenter. Kepada murid-murid-Nya Ia berkata, "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Pengorbanan adalah tanda paling konkrit dan jelas tentang konfiksi hidup seseorang. Dalam teks kita hari ini, rasul Paulus memberitahu jemaat Efesus tiga konfiksi yang ia miliki dalam pelayanannya:

1. Hidup adalah Peperangan
Hidup orang Kristen adalah peperangan melawan kuasa kegelapan. Bukankah saat menerima Kristus, kita memiliki kedamaian hidup? Benar! Namun saat kita berdamai dengan Allah melalui Kristus, seketika itu kita memulai peperangan dengan roh-roh jahat (Yohanes 15:18-25). Metafora militer ini juga dipakai Paulus dalam surat pastoralnya kepada Timotius, yaitu bahwa kita adalah serdadu Kristus (2 Timotius 2:3-4). Kristus sendiri memulai pelayananNya dengan perang melawan godaan Iblis di padang gurun (Matius 4:1-17), dan dengan perang juga Ia mengakhirinya di taman Getsemani (Lukas 22:39-46). Bahkan 3.5 tahun pelayananNya diantara Perang Padang Gurun dan Perang Getsemani juga adalah perang melawan si Jahat.

Demikian pula hidup kita sebagai pengikut Kristus, kita berdiri di tengah-tengah medan pertempuran di dalam dimensi rohani yang tidak terlihat oleh kasat mata. Jangan pernah berpikir bahwa jika sudah lama kita pelayanan, maka otomatis pelayanan kita semakin sempurna, semakin berkenan pada Tuhan. Justru semakin kita giat melayani Allah, semakin gencar Iblis melancarkan serangannya menghancurkan motivasi kita melayani Tuhan, mematahkan semangat kasih kita kepadaNya.

2. Allah itu Berdaulat
Dalam hidup berperang tersebut, kita perlu ingat bahwa Allah berdaulat. Kristus Yesus sudah menang di atas kayu salib atas maut, tetapi kemenanganNya belum final sampai Ia datang kedua kali; itu sebab masih ada duka dan air mata di dunia. Perjuangan di dalam perang ini bukan melawan darah atau pun daging (Efesus 6:12). Pernyataan ini luar biasa, karena keluar dari seorang yang menderita dalam darah dan daging dalam pelayanannya. Difitnah, dipenjara, dicambuk, dagingnya terkoyak dan darahnya terkucur karena ulah manusia-manusia yang terbuat dari darah dan daging. Bahkan dia dimusuhi oleh orang-orang yang ia sendiri layani dengan segenap hati. Namun Paulus tahu bahwa dibalik semua perbuatan jahat tersebut adalah si Iblis. Mata rohaninya mampu menembus tindakan jahat mereka yang kasat mata dan melihat pekerjaan Iblis dibalik semua itu. Itulah sebab ia tidak patah semangat, bersungut-sungut, atau mencaci-maki mereka. Ia tahu bahwa Allah yang ia layani adalah Allah yang berdaulat. Inilah konfiksi seorang a hundred percenter.

3. Saya adalah instrumen Allah
Disaat kita mengerti bahwa hidup ini adalah peperangan yang sulit, dan menyadari bahwa semua duka dan derita di dalamnya tidak lepas dari pemeliharaan Allah, kita harus bertanya apa peran kita di dalam peperangan ini. Paulus berkata "hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya" (Efesus 6:10). Dalam hidup ini tentu ada kebutuhan dan rutinitas hidup yang kita mesti penuhi: pekerjaan, kuliah, dan rumah tangga. Namun mari kita tidak melupakan the big picture hidup kita: Menyatakan kemuliaan Allah dalam segala dimensi kehidupan kita. Dan itu berarti peperangan dengan si Iblis seumur hidup kita. Namun puji Tuhan! Allah telah menyediakan setiap senjata perang untuk kita menang! Dan seperti ditulis dalam lagu hymn kita menyatakan: "Yesus yang memimpin umatNya menang. Mari kita kikis habis kuasa Setan!"

Dari: sendjaya.blogspot.com

YOU MIGHT ALSO LIKE

0 Comments:

Poskan Komentar

Silahkan Meninggalkan Komentar Anda.
Kami akan menghapus komentar yang bersifat spam, jorok, kasar, pornografi, dll.

Advertisements

Advertisements