Ads Top

Allah Yang Perduli

“Boro-boro untuk memperhatikan keperluan orang lain, kebutuhan saya juga masih terlalu banyak, dan untuk memberi pertolongan kepada saudara? Akh,,, ntar aja dulu setelah kebutuhan dan masalah yang saya hadapi beres!”

Inilah realitas hidup saat ini. Di antara kesulitan hidup dalam ekonomi, BBM naik, harga-harga melambung tinggi, pada saat yang sama kasih dan keperdulian sesamapun hampir–hampir memudar. Nilai hidup yang begitu merosot dan ada orang yang memandang sesamanya hanya sebatas manusia yang harus di singkirkan dan tidak layak untuk hidup lalu mengambil keputusan diluar ataupun didalam kesadaran untuk menghabisi nyawa sesamanya seperti membunuh seekor binatang dan membuangnya begitu saja. Ini realita!

Bagaimana dengan kita yang mempercayai Tuhan sebagai Allah yang perduli, sebagai Allah yang berwewenang atas segala ciptaan, sejak kita dilahirkan atau sejak saat saudara mempercayakan diri kepada-Nya? Masihkah dalam situasi yang begitu berat saat ini, saudara percaya bahwa Dia tetap Allah? Percaya bahwa Dia Allah yang memegang kendali sepenuhnya atas hidup kita?..

Yesaya 43 : 1-7, menyatakan tiga bentuk kepeduliaan Allah untuk kita ;
1). Dia peduli akan keberadaan kita, karena dihadapanNya kita adalah pribadi yang sangat berharga (ayt 4)
Tidak perduli seberapa rendah harga diri saudara dipemandangan sesama atau seberapa tinggi nilai harga diri saudara menurut ukuran manusai. Jauh diatas semua nilai itu, saudara sangat berharga dihadapanNya. Jadi tidak ada alasan untuk kita berkata bahwa “Tuhan menutup wajah-Nya terhadap saya dan tidak perduli akan keberadaan saya”. Sungguh Firman-Nya berkata; “kita sangat berharga dihadapan-Nya!”.

2) Dia tetap perduli akan keberadaan kita meski sekitar tidak memperdulikan kita, karena dihadapan Allah kita adalah pribadi yang telah ditebus untuk dijadikan milik kepunyaan-Nya sendiri. (ay 1,3). Proses penebusan yang dikerjakan-Nya adalah membayar segala dosa-dosa kita dengan diri-Nya sendiri (1 pet 1:18), lalu mengubah hidup kita dari keadaan yang buruk (“Yakub” => penipu) menjadi pribadi pilihan (“Israel”), dan selanjutnya Ia mengenal kita masing-masing jauh diatas pengenalan seseorang kepada kita (“Aku memanggil engkau dengan nanamu sendiri”).

3) Bentuk kepeduliaanNya dinyatakan dalam ayat 2 dan 5 yang berkata “Aku menyertai engkau”. Ini sungguh menghibur kita. Dalam banyak situasi dan kondisi berbahaya saat ini, ibarat sebuah bayang-bayang yang akan selalu mengancam dan mengintai perjalanan kita, pada saat yang sama Dia berkata; “jangan takut, Aku menyertai engkau!”

Saudara, percayalah sepenuhnya bahwa Dia memperhatikan segala keberadaan, semua kejadian yang ada. Dan yakinlah bahwa Dia akan tetap dan terus mengasihi kita. Dia akan menyatakan PribadiNya dalam setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi.


Warta Jemaat GSJA Kemuliaan - Pdt. Jonner Sirait, MA.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.